Thursday, 31 December 2015

[review] Simple Thinking About Blood Type 2 by Park Dong Sun


Judul : Simple Thinking About Blood Type 2
Penulis : Park Dong Sun
Penerjemah: Silvanissa NA
Penerbit : Penerbit Haru
Tahun Terbit : 2014
Cetakan : Keempat
Spesifikasi : 20 cm, 302 halaman
Jumlah Bab : 4  bab
Harga : Rp. 65.000,-
Durasi Baca : 27 Desember 2015
Kepemilikkan : Membaca di Pitimoss
Rate : 4.25 of 5 ^^
.
.
.
..
.
Sinopsis;

Pernahkah kamu merasa tidak diperhatikan oleh orang lain? Pernahkah kamu mendapat luka dari perkataan teman baikmu?
Itu semua karena setiap manusia memiliki sifat yang berbeda-beda. Dalam berinteraksi dengan orang lain, tidak ada salahnya kita mencoba mengerti apa yang dirasakan oleh teman dekat ataupun orang lain yang belum kita kenal.
Nah, di komik Simple Thinking about Blood Type 2 ini, kamu akan menemukan bermacam-macam cerita terbaru dan sifat-sifat unik berdasarkan golongan darah.
Semoga komik ini bisa membantumu mencari jawaban yang selama ini dicari, ya. Semoga kamu juga dapat tersenyum saat membacanya.


.
.
Simple Thinking about Blood Type 2 ini merupakan salah satu K-Toon yang diterbitkan oleh Penerbit Haru. K-Toon ini merupakan lanjutan dari seri yang pertama dan menurut saya, di seri kedua ini ceritanya lebih seru.
Untuk buku kedua ini, karena karakteristik golongan darah ditampilkan dalam bentuk cerita sehari-hari, saya menjadi lebih mudah untuk memahaminya. Pembagian bab sesuai timeline yaitu dari taman kanak-kanak hingga kantor dan kehidupan pribadi membuat cerita ini lebih tersusun secara kronologis.
Tentu saja saya memiliki bagian yang favorit yaitu pada bagian Rencana Wisata Golongan Darah O pada bab pertama. Saya bergolongan darah O, walaupun begitu saya tidak pernah berkumpul bersama sekerumun orang bergolongan darah O lainnya. Maka dari itu, reaksi yang ditampilkan pada bagian ini menurut saya sangat lucu ketika saya membayangkannya.
Selain itu, saya juga menyukai spin-off dari dongeng klasik bila golongan darah yang menjadi pemerannya pada bab keempat. Yang menjadi favorit saya adalah dongeng putri tidur.
Secara keseluruhan, menurut saya buku kedua ini lebih menarik, rapid an menghibur dibandingkan buku kedua. Well, saya harap hal yang sama bisa saya temukan di buku yang ketiga dan seterusnya :”)
 
i think i know this scene


[review] Simple Thinking About Blood Type by Park Dong Sun


Judul : Simple Thinking About Blood Type
Penulis : Park Dong Sun
Penerjemah: Achie Linda
Penerbit : Penerbit Haru
Tahun Terbit : 2013
Cetakan : Pertama
Spesifikasi : 14 x 20 cm, 278 halaman
Jumlah Bab : 4  bab
Harga : Rp. 62.000,-
Durasi Baca : 27 Desember 2015
Kepemilikkan : Membaca di Pitimoss
Rate : 4 of 5 ^^
.
.
.
..
.
Sinopsis;

Tahu nggak sih kalau orang bergolongan darah A itu orang-orang yang halus, tapi kaku dan taat pada peraturan? Atau tahukah kamu kalau golongan darah B itu orang-orang yang kreatif dan bebas?
Apa jadinya kalau mereka disatukan? Jangan-jangan, bisa terjadi pertengkaran!
Ternyata, selain perbedaan jenis kelamin, tempat tinggal, agama, dan kondisi ekonomi, golongan darah juga bisa menentukan perbedaan sifat kita, lho.
Meski sifat seseorang tidak bisa hanya dilihat dari golongan darahnya, semoga komik Simple Thinking about Blood Type ini bisa menghibur, sekaligus sedikit membantu kamu untuk memahami orang lain, ya!


.
.
Simple Thinking about Blood Type ini merupakan salah satu K-Toon yang diterbitkan oleh Penerbit Haru. K-Toon ini setahu saya sangat popular. Ketika masih SMA dahulu, saya pernah membaca cuplikannya di salah satu blog—namun saat itu masih berbentuk komik strip dan berbahasa Inggris.
Untuk buku pertama ini saya sangat menyukai betapa informatif sekali komik ini. Walaupun bentuknya komik, namun informasi di dalamnya cukup membantu untuk menggambarkan bagaimana sifat dasar setiap golongan darah. Saat membacanya, tentu saja secara tidak sadar saya membandingkan sifat saya juga sifat teman-teman saya yang memiliki golongan darah berbeda. hal tersebut cukup mengasyikkan karena pada beberapa hal ada bagian yang memang sama.
Bagian yang kusukai adalah bagian pertama dan ketiga dimana pada bagian pertama adalah penjelasan mengenai sifat seseorang melalui golongan darah. Menurutku, bagian ini sangat lucu terutama bagian ‘posisi yang disukai golongan darah’. Untuk bagian tiga, saya menyukai bagian ‘bagaimana jika vasnya pecah?’ reaksi golongan darah O dan AB sangat lucu :”)
Secara keseluruhan, saya menyukai buku ini karena banyak mengajarkan saya mengenai karakteristik golongan darah. Mungkin dari banyak hal, ada sesuatu yang cukup mengganggu pengalaman saya dalam membaca buku ini yaitu ketika membaca bagian ‘golongan darah para pahlawan dalam kisah tiga negara’. Mungkin karena saya tidak mengetahui kisah tiga negara seperti apa, maka dari itu saya tidak memahami bagian ini ;;;;;;
Selain hal itu, tidak ada lagi hal yang mengganggu dan secara keseluruhan, saya bisa menikmati buku ini dengan baik.

mine



[review] Majo & Sady by Jung Chul Yeon


Judul : Majo & Sady
Penulis : Jung Chul Yeon
Penerjemah: Dewi Rosanti
Penerbit : Penerbit Haru
Tahun Terbit : 2015
Cetakan : Pertama
Spesifikasi : 20 cm, 308 halaman
Jumlah Bab : 6  bab
Harga : Rp. 72.000,-
Durasi Baca : 27 Desember 2015
Kepemilikkan : Membaca di Pitimoss
Rate : 4.5 of 5 ^^
.
.
.
..
.
Sinopsis;

Sady adalah seorang wanita karier dan Majo adalah suami yang mengurus rumah tangga.
Majo selalu berpikir bahwa pelatihan untuk menjadi suami pengurus rumah tangga memang seharusnya diadakan.
 Majo & Sady memarodikan kehidupan sehari-hari masyarakat Korea Selatan usia 20-30 tahunan yang bisa membuat kita terharu dan tertawa sambil berkata, “Ternyata tidak hanya aku saja yang mengalaminya”.

.
.
Majo & Sady adalah komik yang diterbitkan oleh Penerbit Haru. Komik ini menceritakan bagaimana kehidupan Majo sebagai seorang Bapak Rumah Tangga dan juga Sady sebagai wanita karir.
Majo adalah seorang suami yang bertanggungjawab sekaligus lucu dan menghibur. Sedangkan istrinya, Sady merupakan seorang pekerja kantoran. Dapat dikatakan komik ini merupakan salah satu bentuk representasi dari kehidupan rumah tangga yang dijalani para bapak rumah tangga di korea sana.
Sifat Majo yang menyukai games sedangkan Sady yang suka belanja menurutku sangat lucu karena beberapa kali mereka bertengkar karena hal itu. Saya sendiri bisa melihat hal itu pada keluarga saya dimana mereka memiliki ketertarikan yang berbeda. membaca komik ini membuat saya tertawa karena menyadarkan betapa lucunya realitas kehidupan sehari-hari. Komik ini begitu realistis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari hingga walaupun saya bukan orang Korea dan juga belum menikah namun saya masih bisa menikmati jalannya komik ini dengan baik.  Membaca komik ini juga memberikan gambaran kepada saya bahwa pernikahan itu tidak selamanya sesuai dengan keinginan kita—terdapat suka dan duka di dalamnya. Ada bagian yang sangat saya sukai karena lucu yaitu:
MARRIAGE PROBLEM
Secara keseluruhan, sebagai pengalaman pertama saya membaca K-Toon dari terbitan Haru ini sangatlah menyenangkan. Saya suka bagaimana seluruh halaman komik ini dicetak full colour dan sangat cerah. Untuk selanjutnya, saya akan sangat menunggu diterbitkannya K-Toon oleh Penerbit Haru ini—dan ah! juga menunggu kelanjutan Majo & Sady yang katanya akan diterbitkan bagian duanya, yey! :D


[review] Crying 100 Times by Nakamura Kou




Judul : Crying 100 Times
Penulis : Nakamura Kou
Penerjemah: Khairun Nisak
Penerbit : Penerbit Haru
Tahun Terbit : 2013
Cetakan : Pertama
Spesifikasi : 19 cm, 256 halaman
Jumlah Bab : 4 bab, 34 bagian  
Harga : Rp. 49.000,-
Durasi Baca : 2015
Kepemilikkan : Milik Sendiri
Rate : 2.5 of 5 ^^
.
.
.
.
.
.
Sinopsis;


“To love, to honor. To cherish, to help. Until death do us apart.”
Waktu itu,
Kami sedang memperbaiki
Sepeda motor tuaku.
Waktu itu,
Ia memintaku untuk menjenguk Book,
Anjing tua kesayanganku yang sekarat.
Dari dulu,
Book sangat menyukai
Suara mesin motorku.
Waktu itu,
Aku melamarnya.
Waktu itu,
Aku merasa aku adalah pria paling bahagia di dunia.
Aku kira,
Kebahagiaan ini
Tidak akan berakhir.
Tapi…


.
.
“Tunggu saja, Book. Sepeda motor ini akan normal lagi. dari susu menjadi mentega. Dari kedelai menjadi shoyu. Kunci ring dan mesin rodeo. Pertemuan dengan Guru Karburator. Aku bersyukur telah berjumpa denganmu. Sejak mentari pagi hingga rembulan malam.” (p. 48)
Book adalah seekor anjing kepunyaan Fujii—seorang lelaki yang menemukan dan rela mengurus anjing itu kala dibuang dahulu. Beberapa tahun berlalu dan kemudian Fujii mendapatkan kabar dari sang ibu kalau Book terkena penyakit dan sepertinya tak lama lagi umurnya. Ia pun bertekad untuk menemui Book kembali.
“Bukan. Bukan itu, aku ingin sebuah kotak. Aku ingin dibuatkan sebuah kotak yang pasti tidak akan terbuka.” (p. 196)
Di sisi lain, kekasihnya, Yoshimi, mengajaknya untuk menjalani masa ‘latihan’ sebelum kelak menikah. Namun, semakin hari, semakin lemah keadaan gadis itu. Ketika ia pulang ke rumahnya dan dirawat, Fujii pun akhirnya mengetahui kalau kekasihnya itu mengidap kanker.
Ayah yang baik, ibu yang ceria, anak gadis yang ceria, pacar yang lugu. Kami bercakap-cakap seperti ini, rasanya semua yang kubaca dalam lembaran data sepanjang pagi tadi hanyalah cerita fiksi. (p. 182)
Apa yang akan dilakukan Fujii? Akankah ia bisa tetap berada di sisi kekasihnya? Apakah ia juga bisa menemui Book?
.
.
.
Di saat pacarku sedang berjuang mempertaruhkan nyawanya melawan sesuatu yang besar, apa yang sedang kulakukan? Di tempat seperti ini, sebenarnya apa yang sedang kulakukan? (p. 206)
.
.
.


Baca selengkapnya pada novel Crying 100 Times karya Nakamura Kou ini! ^^


.
.
Crying 100 Times adalah salah satu J-Lit (cerita terjemahan dari Jepang) yang diterbitkan oleh Penerbit Haru. Ini adalah buku Nakamura Kou pertama yang kubaca.
Jujur saja, saya tidak paham mengenai alur ceritanya. Maksud saya disini, di awal buku ini menceritakan mengenai Book, namun separuh dari isi buku ini menceritakan mengenai keadaan pacar Fujii dan di akhir cerita saya tidak mendapatkan sebuah garis merah ataupun kesimpulan atas cerita ini.
Mengambil judul yang sendu juga tema cerita mengenai sicklit, saya kira hal tersebut kuranglah nampak dalam cerita ini. Saya tidak bisa menangkap emosi apa yang penulis coba ungkapkan dalam cerita ini. Penjelasan mengenai karakternya pun sangat minim sekali hingga saya tidak bisa berempati.
Secara keseluruhan, saya cukup kecewa membaca novel ini. Namun, tentu saja ini hanyalah pendapat saya pribadi. Apakah teman-teman yang memiliki kesan yang berbeda mungkin bisa berbagi kepada saya? Barangkali saya membaca novel ini dalam suasana yang tidak pas hehe
.
.
.
Baiklah, sekian review novel Crying 100 Times dari saya!
Tertarik untuk membaca novelnya? BURUAN BACAAA! :”)))))
Sudah membacanya? Yuk atuh kita FANGIRLING-an! :”)))))))))))
.
.
.
Till death do us apart
Will you promise to live with me? (p. 226)






[review] The Wind Leading to Love by Ibuki Yuki


Judul : The Wind Leading to Love
Penulis : Ibuki Yuki
Penerjemah: Mohammad Ali
Penerbit : Penerbit Haru
Tahun Terbit : 2015
Cetakan : Pertama
Spesifikasi : 20 cm, 342 halaman
Jumlah Bab : 7 (beserta prolog dan epilog)
Harga : Rp. 65.000,-
Durasi Baca : 24-25 Desember 2015
Kepemilikkan : Milik Sendiri
Rate : 4.25 of 5 ^^
.
.
.
..
.
Sinopsis;


Rasa sakit itu merupakan bukti kalau kita masih hidup.

Suga Tetsuji depresi.
Menuruti saran dokter, dia mengasingkan diri di sebuah kota pesisir, di sebuah rumah peninggalan ibunya. Namun, yang menantinya bukanlah ketenangan, tapi seorang wanita yang banyak omong dan suka ikut campur bernama Fukui Kimiko.

Fukui Kimiko kehilangan anak dan suaminya, dan menyalahkan dirinya sendiri sebagai penyebab kematian mereka berdua. Dia menganggap dirinya tidak pantas untuk berbahagia.

Setelah menyelamatkan Tetsuji yang nyaris tenggelam, Kimiko menawarkan bantuan pada pria itu untuk membereskan rumah peninggalan ibunya agar layak dijual. Sebagai gantinya, wanita itu meminta Tetsuji mengajarinya musik klasik, dunia yang disukai anaknya.

Mereka berdua semakin dekat, tapi…


.
.
“Siapa yang tidak merasa heran melihat seorang murid teladan membeli ayam goring dan hamburger dengan jumlah yang tidak mungkin habis termakan, lalu membuangnya begitu saja? Apa yang terjadi? Kau ini cerdas dan punya segalanya, tapi kenapa sedikit pun tidak terlihat bahagia?” (p. 35)

Di sebuah rest area menuju Miwashi, mobil yang mengantar Suga Tetsuji kemudian ditumpangi oleh Fukui Kimiko. Walaupun enggan, namun karena mobil tersebut adalah milik kenalan perempuan itu, ia tidak bisa menolak. Tetapi sepertinya hal itu adalah kesalahan karena perempuan itu tidak berhenti bertanya dan membuat perjalanannya menjadi tidak tenang. Setelah mengantarkan Kimiko ke tujuannya, mobil tersebut pun mengantarkannya ke rumah peninggalan ibunya yang beberapa lalu meninggal dunia dan kini harus diurusnya. Rumah dimana ia akan menghabiskan waktu cuti enam minggu untuk berlari dari masalah dan tekanan yang ada.
“Anu, aku tahu kau memiliki masalah yang tidak ringan. Tapi saat ada di sini, lupakanlah semua masalah itu. Kembalilah seperti Tetsuji di masa kanak-kanak dulu. Lagi pula ini kan rumah ibumu. Aku saja yang tidak memiliki hubungan apapun dengan ibumu selalu merasa seperti kembali menjadi anak SD.” (p. 98)
Namun, karena tekanan psikologis yang melandanya, ketika melihat laut di dekat rumah itu, Tetsuji pun menghampirinya dan nyaris tenggelam. Untung saja ada seseorang yang menolongnya, perempuan di rest area tersebut, Kimiko. Melihat keadan Tetsuji yang tidak berdaya, Kimiko pun menolong lelaki itu dan mengurusnya. Perempuan itu pun mengurusnya dengan baik. Keesokan harinya, Kimiko kembali datang untuk mengembalikan baju yang ia pinjam dan pada saat itulah ia melihat koleksi kaset musik klasik. Sebuah ide pun muncul dalam benak Kimiko; ia akan membantu lelaki itu untuk membersihkan dan mengurus rumah peninggalan tersebut asalkan Tetsuji mau mengajarkannya mengenai musik klasik—dunia yang dulu disukai mendiang anaknya.
Apa yang bisa membahagiakan dan membuat seorang yang pendiam seperti ini tertawa? Apa yang disukai dan bisa membuat pria ini senang? (p. 106)
Keberadaan Kimiko di rumah tersebut kemudian membuat Tetsuji perlahan-lahan membuka dirinya kembali. Sifat Kimiko yang riang dan hangat membuat Tetsuji bisa akrab dengan perempuan itu. Selain itu, Kimiko yang ulet pun berhasil membuat rumah semenanjung peninggalan ibunya pun nampak semakin rapi dari hari ke hari. Sebaliknya, keberadaan Tetsuji yang tidak pernah mencela Kimiko membuat perempuan itu merasa nyaman. Sekalipun ia tidak mengerti musik klasik sama sekali, lelaki itu dengan sabar memperkenalkan satu per satu koleksi musik klasik tersebut. Tetsuji membawa Kimiko merasa lebih dekat dengan sang anak. Perlahan-lahan, mereka pun mengetahui satu sama lain lebih dalam. Tetsuji mengetahui bahwa Kimiko kehilangan anak dan suaminya dan hal tersebut ada hubungannya dengan Kota Miwashi ini. Akan tetapi, hubungan yang semakin baik itu pun mendapat konflik ketika Rika, istri Tetsuji, datang untuk menjenguk sang suami.
“Dua belas tahun aku merawatnya, menganggapnya milikku yang amat sangat berharga, lebih dari apapun di dunia ini. Tapi kata-kata terakhir yang keluar dari mulutnya adalah ‘kenapa keluargaku harus seperti ini?’. Apa yang salah? Apa yang harus kulakukan agar kesalahan itu bisa kutebus? Berkali-kali aku terus memikirkan hal itu. mungkin kesalahan itu ada pada diriku sendiri. Tapi aku tidak mengerti.” (p. 187)
Kedatangan Rika membuat Tetsuji menyadari bahwa ia memiliki rumah untuk pulang dengan seorang istri dan anak perempuan yang menunggu. Ia sudah sembuh dari depresi yang melandanya dan urusan rumah semenanjung milik mendiang ibunya pun sudah dijual. Lalu, bagaimana dengan hubungan Tetsuji dan Kimiko? Akankah lelaki itu meninggalkan Miwashi untuk kembali ke keluarganya atau tetap tinggal dengan Kimiko di Miwashi yang telah mengembalikan sebagian dirinya yang dulu ia anggap sudah hilang?
.
.
.
.
Apakah ia akan menjalani hidup ke depan dengan selalu diselimuti kenangan musim panas itu? Rasanya seperti mengenang orang yang telah tiada.(p. 285)
.
.


Baca selengkapnya pada novel The Wind Leading to Love karya Ibuki Yuki ini! ^^


.
.
Depresi adalah suatu hal yang pastinya pernah melanda setiap manusia. Hal tersebut bisa datang dari kekecewaan, tekanan, kegagalan maupun hal negatif lainnya. Bukan tidak mungkin depresi bisa berujung pada upaya untuk mengakhiri hidup.
Hal tersebutlah yang terjadi pada novel The Wind Leading to Love. Masalah berat yang menimpa Tetsuji membuat dirinya depresi dan hampir membunuh dirinya sendiri dengan tenggelam di lautan. Namun, pertolongan dari Kimiko telah menyelamatkannya. Dari sanalah cerita berawal dan perkembangan hubungan Tetsuji dan Kimiko pun berlanjut.
Dari segi alur, walaupun tergolong cenderung lambat, namun sesuai dengan nuansa mellow yang dibawakan. Penulisan cerita yang disertai banyak deskripsi mengenai setting tempat maupun perasaan tokoh pun membuat pembaca bisa membayangkan cerita ini dengan baik. The Wind Leading to Love yang merupakan J-Lit (cerita terjemahan dari Jepang) karya Ibuki Yuki ini bisa membawa pembacanya hanyut pada musim panas di Miwashi. Saya sendiri merasa bisa membayangkan bagaimana indahnya kota tersebut hanya dengan membaca deskripsi yang dituliskan dalam novel ini.
Penokohan yang berbeda antara Tetsuji dan Kimiko membuat chemistry tersendiri. Kimiko yang periang, hangat, dan memiliki sifat inferior memiliki interaksi yang menarik dengan Tetsuji yang  pendiam, agak ketus namun selalu berpikir objektif. Pada awalnya, saya tidak sadar bahwa keduanya diceritakan sudah berumur 30-an dan ketika mengetahuinya saya cukup kaget. Walaupun begitu, interaksi mereka tetap menarik. Dalam ringkasan cerita di atas saya tidak mencantumkan keseluruhan tokoh seperti putri Tetsuya, Yuka, Shun, Madam, Mei dan lainnya, namun tokoh-tokoh pelengkap itu memiliki peran yang cukup membantu dalam membangun alur cerita.
Satu hal yang sangat saya sukai dari novel ini adalah bagaimana Ibuki Yuki membangun hubungan Tetsuji dengan Kimiko dengan cara yang sesuai dengan umur tokoh tersebut. Saya tidak merasakan gejolak khas anak muda dalam hubungan mereka, namun sikap yang lebih dalam dan dewasa berhasil saya tangkap dari hubungan mereka. Saya juga menyukai bagaimana musik klasik bisa membuat mereka semakin dekat. Untungnya saya sedikit familier dengan La Traviata (yang cukup sering disebut) hingga setidaknya bisa memahami obrolan mereka mengenai musik klasik.
Konflik besar yang muncul di akhir menurut saya menjadi kekurangan dari cerita ini karena menurut saya konflik memiliki peranan penting untuk membuat pembaca tetap ingin membaca. Walaupun begitu, penulis mungkin memang menekankan pada pembangunan hubungan di antara dua tokoh utama. Terlepas dari hal tersebut, membaca novel ini merupakan pengalaman yang cukup menyenangkan. Saya harap bisa membaca karya Ibuki Yuki yang lain. Dari novel ini saya mendapatkan nilai bahwa terkadang, kita perlu melepaskan hal-hal yang membuat kita tetap berjalan di tempat.
.
.
.
Baiklah, sekian review novel The Wind Leading to Love dari saya!
Tertarik untuk membaca novelnya? BURUAN BACAAA! :”)))))
Sudah membacanya? Yuk atuh kita FANGIRLING-an! :”)))))))))))
.
.
.
“Hidup yang selalu minta maaf itu tidak baik, kan? Padahal kau tidak melakukan kesalahan sedikit pun. Jangankan melakukan kesalahan, kau bahkan memperhatikan sekelilingmu dengan cukup baik. Kau itu seharusnya marah.” (p. 120)
.
.






Wednesday, 30 December 2015

[review] Perfect Match by Park Mi Youn




Judul : Perfect Match
Penulis : Park Mi Youn
Penerjemah: Dewi Ayu Ambar Rani
Penerbit : Penerbit Haru
Tahun Terbit : 2015
Cetakan : Pertama
Spesifikasi : 20 cm, 338 halaman
Jumlah Bab : 6 (beserta prolog dan epilog)
Harga : Rp. 76.000,-
Durasi Baca : 2015
Kepemilikkan : Milik Sendiri
Rate : 3 of 5 ^^
.
.
.
.
*catatan: novel dewasa
.
.
Sinopsis;


“Tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa cinta itu tak berharga.”
—Wanita yang percaya adanya cinta, Jung Eun Su, anak bungsu Presiden Direktur Jung.

“Aku tidak punya orang yang kucintai. Sampai kapan pun, sepertinya aku tidak akan pernah bisa mencintai seseorang.”
—Pria yang tak pernah memulai cinta, Kim Hyuk Jun, penerus Grup Sinsung.

Keduanya dijodohkan dan perjodohan tersebut diharapkan bisa memperkuat posisi kedua perusahaan yang sedang dilanda krisis.

Keduanya jatuh ke dalam perasaan yang paling tak sempurnya, paling tak dapat dipercaya. Cinta kedua orang tersebut pun dimulai. Apakah itu merupakan keberuntungan atau kesialan?

Benarkah yang mereka rasakan itu cinta?


.
.

“Lalu … bagaimana denganku? Memangnya aku juga tidak boleh tertawa? Awalnya, sesuatu merasuki pikiranku, kenapa cuma aku yang tidak bahagia? (p. 73)

Hyuk Jun adalah pemimpin perusahaan dengan masa lalu yang tidak mengenakkan. Kematian Ji Hyun, tunangannya, menjadi beban berat dalam hidupnya karena semua orang seakan menyalahkannya, termasuk sepupunya, Tae Wook. Sudah lima tahun berlalu setelah kematian Ji Hyun dan Hyuk Jun belum pernah menjalani hubungan dengan siapapun. Kemudian, Presiden Direktur Jung, rekan kerjanya pun mencoba menjodohkan Hyuk Jun dengan putrinya, Eun Su.

“Selama sepuluh tahun aku sudah setia padanya. Dan sampai sekarang aku masih harus memikul tanggung jawab itu. apakah dalam cinta sepihak, salah satu pihak harus bertanggung jawab pada pihak lainnya? Tidak seperti itu, kan? Karena itulah, orang yang mengalami cinta sepihak pasti merasa kesulitan.” (p. 140)

Eun Su sendiri bukanlah perempuan yang terlalu paham atas cinta—walaupun ia tahu cinta itu ada. Melihat kehidupan orang-orang di sekelilingnya yang menderita karena cinta membuatnya cenderung skeptis pada hal tersebut. Walaupun begitu, Eun Su menyetujui perjodohan yang diusulkan ayahnya tersebut. Pertemuan Eun Su dengan Hyuk Jun cukup berjalan dengan baik dan mereka pun merasakan kenyamanan satu sama lain. Semakin lama mereka berinteraksi, maka semakin bertambah pula kedekatan kedua orang tersebut.

“Entahlah. Kenapa Anda baru mengatakan hal itu sekarang? Kenapa?! Kalau Anda tidak mengatakannya sejak dulu, lebih baik Anda tak pernah mengatakannya. Beban itu … hanya saya sendiri yang merasakannya. Kalau Anda baru menyuruh saya kembali sekarang, lalu apa yang bisa saya perbuat?” (p. 246)

Hyuk Jun pun mengangkat Eun Su sebagai wakil ketua tim perencanaan ketika perusahaan sedang dilanda krisis akibat saham yang terlalu banyak dibeli oleh pihak asing. Tae Wook yang mendengar perjodohan antara Eun Su dan Hyuk Jun pun geram karena sebelum Ji Hyun meninggal, perempuan itu membuat Hyuk Jun berjanji tidak akan pernah jatuh cinta pada siapapun lagi.
Bagaimana reaksi Eun Su ketika mengetahui hal tersebut? Apakah dengan bergabungnya Eun Su ke dalam tim akan membuat perubahan bagi perusahaan yang sedang dilanda krisis? Bagaimanakah akhir dari hubungan Eun Su dan Hyuk Jun?
.
.
.
.

“Aku tidak memohon padamu untuk mencintaiku, tapi kau tidak boleh mengabaikan suara hatimu. Aku yakin, perasaan ini bukan hanya aku sendiri yang merasakannya. Kau tahu itu, kan?” (p. 274)

.
.


Baca selengkapnya pada novel Perfect Match karya Park Mi Youn ini! ^^


.
.
Perfect Match adalah salah satu K-Iyagi (cerita terjemahan dari Korea) yang diterbitkan oleh Penerbit Haru. Ini adalah buku Park Mi Youn pertama yang kubaca. Novel ini—karena kontennya mengandung satu dan lain hal, maka ditujukkan untuk pembaca dewasa.
Mengangkat tema drama romantis dengan setting perusahaan, saya kira Park Mi Youn-sshi berhasil menuliskannya dengan baik. Sepanjang cerita, kita bisa melihat bagaimana kehidupan perusahaan, rapat, hingga intrik di dalamnya.
Untuk alur sendiri, menurut saya bergerak cukup lambat namun pas dengan kebutuhan cerita. Masa perkenalan antara Hyuk Jun dan Eun Su, bagaimana baik Hyuk Jun maupun Eun Su mulai berkenalan dengan keluarga pasangannya, hingga bagaimana konflik pertama mereka sebagai pasangan muncul. Hanya saja, saya merasa konflik dalam cerita ini tidak terlalu diangkat hingga tidak membuat saya terhanyut dalam cerita karena memang tidak ada yang perlu diselesaikan.
Untuk penokohan sendiri, saya tidak mendapatkan kesan yang cukup baik dari Hyuk Jun maupun Eun Su. Saya juga tidak bisa merasakan chemistry pada hubungan mereka ;;;;;; entah mengapa menurut saya hubungan mereka datar sekali ;;;;; saya malah lebih tertarik pada Tae Wook. Lelaki itu memiliki kesedihan yang mendalam dan sayang sekali, menurut saya karakternya (juga karakter Hyuk Jun dan Eun Su) kurang digali lebih dalam.
Adegan dewasa dalam novel ini untungnya tidak digambarkan secara eskplisit, namun halus saja. Walaupun begitu, saya cukup kaget sih hehe
Secara keseluruhan, saya kurang puas dengan novel ini karena menurut saya pada banyak bagian terasa datar dan interaksi antara tokoh utamanya kurang greget :” walaupun begitu, dari karya ini saya mengambil nilai perlu bagi kita untuk mencob membuka hati pada kesempatan kedua.
.
.
.
Baiklah, sekian review novel Perfect Match dari saya!
Tertarik untuk membaca novelnya? BURUAN BACAAA! :”)))))
Sudah membacanya? Yuk atuh kita FANGIRLING-an! :”)))))))))))
.
.
.

“Keharusan mencintai pasangan bukanlah yang terpenting; seberapa besar kepercayaan pasangan dan bisakah pria itu bersamaku selama sisa hidupku, itulah yang terpenting.” (p. 119)

.
.





[review] Khokkiri by Lia Indra Andriana



Judul : Khokkiri
Penulis : Lia Indra Andriana
Penerbit : Penerbit Haru
Tahun Terbit : 2011
Cetakan : Pertama
Spesifikasi : 20 cm, 308 halaman
Jumlah Bab : 33 (Tiga puluh tiga)
Harga : Rp. 46.000,-
Durasi Baca : 26-30 Desember 2015
Kepemilikkan : Meminjam dari Dhenda Fildza
Rate : 4.5 of 5 ^^
.
.
.
..
.
Sinopsis;

“Kusimpan seuntai kenangan abadi tentangmu”
Becca. Adriel Jo. Richard. Della. TOP. Lucie. Penulis. Fotografer. Dokter. Penerjemah. Blogger. Teman. Saudara. Kekasih. Tunangan.
Mereka telah mengikrarkan kesetiaan untuk tak saling melupakan. Namun, kenyataan bahwa mereka hanyalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan memori, tak dapat diubah.
Meski ego mereka bersikeras tak ingin dilupakan, namun ketika salah satu dari mereka harus menghilang dari kehidupan orang terdekatnya, semua memori yang telah dirajut dan disimpan seolah tidak pernah ada.
Adakah jalan bagi memori itu untuk kembali?
Benarkah memori yang tersimpan itu tidak akan pernah pudar seperti janji setia yang pernah pudar seperti janji setia yang mereka ucapkan?

.
.

Kehilangan waktunya adalah hal yang biasa. Itu bukanlah kehilangan waktu. Itu usaha tubuhnya untuk menghindari kenyataan pahit tersebut dan tubuhnya menidurkan diri lebih banyak dari biasanya.

Kehidupan Becca berubah ketika ia bertemu dengan Adriel, bosnya yang tiba-tiba datang dan mengkritik tagline yang ia buat secara susah payah. Lelaki itu memberikan kamera pada Becca dan tidak mengatakan apapun. Becca pun menumpahkan kebingungannya pada sang bos di blog pribadinya. Tanpa disangka, seseorang yang memiliki akun TOP kemudian sering mengomentari posting-annya—yang kadang membuatnya kesal. Ternyata, TOP adalah bosnya sendiri. Hubungan mereka pun berkembang ke arah yang positif. Hal-hal kecil yang dilakukan oleh Adriel membuat Becca merasa nyaman dengan lelaki itu.

Dunia maya memang mengagetkan. Itulah sebabnya Becca tidak pernah mau berhubungan langsung dengan para penghuni dunia maya. (p. 83)

Di sisi lain, Della yang bertunangan dengan seorang dokter, Richard, sedang mengalami suatu fase aneh dalam dirinya. Ia tiba-tiba terbangun dalam keadaan tidak mengingat apapun. Della pun mengatakan pada sang kekasih kalau ia mungkin mengidap sleepwalking. Richard yang khawatir mencoba bersikap rasional, namun ia malah mempertanyakan hal tersebut. Tanpa disangka, setelah itu Della pun menghilang.

“Hey, I Love you, okay?” bisik Richard di telinganya. “Dan aku tahu ada sesuatu yang terjadi. Kau mengirimkan SMS aneh padaku, Della. Memintaku tidur denganmu. Aku tahu itu bukan kamu. Kumohon, beritahu aku apa yang terjadi. Apa kau berusaha menjauhkanku darimu?” (p. 51)

Richard mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kekasihnya tersebut. Ia sampai terbang ke korea untuk menemukan Della. Namun, bukannya menemukan Della, Richard menemukan hal lain—bahwa mungkin apa yang diderita kekasihnya bukanlah sleepwalking, bahwa mungkin Della bukanlah Della. Pusing mencari keberadaan Della, ia pun memutuskan untuk bertemu dengan Adriel, adik tirinya. Namun, betapa kagetnya ia melihat Della yang selama ini dicarinya kini duduk bersama Adriel dan dikenalkan sebagai pacar lelaki itu yang bernama Becca.

“ … Belasan. Satu demi satu bergantian keluar. Aku yang mengaturnya. Aku suka tugas ini. Aku yang paling kuat, jadi bisa mendorong siapa saja keluar, atau membunuhnya. Kau tahu, rasanya seperti menjadi Tuhan.” (p. 227)

Kejadian tersebut membuat kedua saudara berbeda ibu itu menjadi renggang. Mereka pun berusaha untuk mencari tahu siapa sebenarnya Della dan Becca. Lalu, kehadiran pribadi yang mengaku bernama Lucie dari tubuh itu membuat semuanya menjadi semakin rumit. Apa sebenarnya yang terjadi pada Della, Becca dan Lucie? Apakah dengan konflik pelik yang terjadi akan membuat mereka melupakan janji mereka pada masing-masing pasangannya?
.
.
.
.
“Bagaimana kalau aku tiba-tiba lupa, Oppa? Kalau aku lupa malam ini? Kautahu aku tidak pandai mengingat,” …
“Kamu adalah Khokkiri. Gajah selalu ingat,” … (p. 260)
.
.

Baca selengkapnya pada novel Khokkiri karya Lia Indra Andriana ini! ^^

.
.
Khokkiri adalah tulisan solo Kak Lia pertama yang saya baca. Sebelumnya saya pernah membaca tulisan beliau di seri Oppa & I juga pada Intertwine. Pengalaman pertama ini cukup mengesankan bagi saya.
Sebenarnya, hal pertama yang membuat saya tertarik pada novel ini adalah judul dan covernya. Di telinga saya, judul ‘khokkiri’ ini sangatlah catchy dan mengundang pertanyaan; apa artinya? Akan seperti apa ceritanya? Setelah itu, judulnya yang didominasi warna gelap pun nampak agak ‘nyeleneh’ dengan kemunculan gajah animasi berwarna biru. Membaca sinopsisnya pun, saya tidak bisa mengira-ira akan seperti apa cerita yang ditampilkan Kak Lia. Dan ternyata memang cerita pada novel ini memang tidak tertebak.
Secara garis besar, novel ini mengambil tema drama psikologi dengan bumbu romansa di dalamnya. Drama psikologi yang dimaksud pun bisa disajikan dengan cukup baik—well, barangkali untuk menghindari spoiler, maka saya tidak akan menuliskan lebih mendetail soal itu. Namun, karena sejak awal saya sudah curiga mengenai apa koneksi di antara Becca, Della dan Lucie, saya bisa menebak apa yang terjadi dengan mereka. Namun bagi saya, yang tidak tertebak adalah apa yang melatarbelakangi terbentuknya hubungan mereka. Alur cerita yang menggunakan pov orang ketiga secara bergantian baik dari Becca, Della, Lucie, Adriel maupun Richard membuat pembaca bisa mengetahui pemikiran berbagai karakter secara sekaligus. Membaca karya ini seperti sedang bermain teka-teki =)
Awalnya, konflik tidak terlalu jelas, namun lama kelamaan, konfliknya semakin kompleks dan membuat kita (saya) tidak bisa melepaskan buku ini hingga akhir. Pada awalnya, cerita masihlah tenang dan cenderung manis karena mengisahkan bagaimana kedekatan antara Becca-Adriel maupun Della-Richard. Namun, konflik semakin tegang ketika Della menghilang dan Richard menemukan salah satu kemungkinan mengenai apa yang terjadi pada tunangannya tersebut. Saya kira dari pertengahan cerita hingga akhir, tensi cerita semakin menegangkan—membuat kita bertanya-tanya akan seperti apa akhirnya. Selain drama psikologis dan romansa, konflik keluarga yang dialami sejumlah tokoh juga membuat drama ini semakin kompleks.
Walaupun memiliki tokoh yang cukup banyak, saya kira penokohannya cukup baik. Tokoh pelengkap seperti ayah Adriel-Richard juga ayah Della cukup berperan dalam alur cerita. Dari berbagai tokoh yang ada, hatiku (hatiku) terpikat oleh Adriel. Sosoknya yang pendiam dan kaku ini ternyata bisa melakukan hal-hal kecil yang sangat romantis seperti menempelkan post-it pada laptop Becca dan memotret rute perjalanan untuk Becca =”) he’s da man! Namun, yang lebih menarik lagi menurut saya adalah interaksi di antara berbagai tokoh yang ada. Saya suka bagaimana interaksi antara Adriel dan Becca yang perkembangannya pelan tapi manis dan pasti (I ship them, btw. Their interaction in Becca’s blog it’s just precious). 
Namun, menurut saya yang menjadi kekuatan dalam karya ini adalah bagaimana pengembangan konfliknya yang sangat terstruktur. Saya suka bagaimana ada hubungan sebab-akibat yang sangat kuat dalam karya ini. Mungkin, bila ada hal yang mengganggu itu adalah ending-nya. Well, secara personal saya merasa ending-nya kurang greget karena dengan pembangunan tensi yang luar biasa sejak pertengahan cerita hingga akhir sudah sangat baik, namun sekali lagi itu hanya dari sudut pandang saya saja.
Secara keseluruhan, membaca Khokkiri ini adalah pengalaman yang menyenangkan. Saya rasa ini pertama kalinya saya membaca novel Indonesia dengan tema seperti ini dan saya menyukai bagaimana Kak Lia menuliskannya. Ah! Khokkiri itu berarti gajah (si gajah dalam cover). Dan setelah membaca ini, saya tidak bisa melihat gajah dengan cara yang sama lagi :”) btw, satu hal yang bisa saya ambil dari novel ini adalah tindakan yang mungkin menurut kita kecil, sepele ataupun tidak penting mungkin bisa berdampak besar bagi orang lain. Hubungan sebab-akibat selalu ada, maka dari itu berhati-hatilah :”)
.
.
.
Baiklah, sekian review novel Khokkiri dari saya!
Tertarik untuk membaca novelnya? BURUAN BACAAA! :”)))))
Sudah membacanya? Yuk atuh kita FANGIRLING-an! :”)))))))))))
.
.
.
“Gajah terbang bisa melupakan semuanya dalam sekejap,” bisik Becca. “Kamu tidak punya sayap. Aku tidak akan membiarkanmu terbang,” … (p. 260)